BITUNG-Regina Secilia Sangian (12), warga Kelurahan Danowudu, Kecamatan Ranowulu, kemarin, tewas secara tragis. Finalis Siswa Teladan (Sistel) Kota Bitung Tahun 2008 itu meregang nyawa saat berenang di sweemingpool Wisma Pelaut Bitung.
Informasi yang dihimpun dari TKP (Tempat Kejadian Perkara), Gina –sapaanya—tewas karena tenggelam. Namun, belum ada keterangan resmi penyebab, tewasnya siswa Kelas VII 1 SMPN 1 Bitung itu.
‘’Gina tenggelam karena kelelahan setelah berenang. Dia sempat memegang kaki dan tangan saya, tapi terlepas, akhirnya dia tenggelam,’’ kisah Flauren Rumampuk, teman korban.
Sambil menangis sedih Flauren berkisah, saat kejadian, tidak ada pegawai atau keamanan hotel. ‘’Cuma torang, kita, Gina, Gariela Ponitjan, Gabriela Tangkulung, dan Tesalonika Moroisa. Kami kebingunan, dan tidak bisa berbuat apa-apa saat dia(Gina) tenggelam,’’ tuturnya sambil terisak.
Flauren menambahkan, kepergian mereka ke kolam renang Wispel untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 12. ‘’Waktu pulang sekolah, saya mengajak Gariela, Tesalonika, dan Babriela. Tapi, Gina sempat mendengar dan meminta diajak. Makanya, sepulang sekolah kami rame-rame ke Wispel untuk berenang. Saya yang bayar,’’ Flauren menambahkan.
Menurut Flauren, di antara teman-temannya yang ikut rombongan, dua di antaranya tidak berenang. ‘’Keren Kapuk dan Chintya Ponintjan juga ikut tapi tidak berenang,’’ ujarnya..
Ia menambahkan, saat berada di tengah kolam melihat Gina minta tolong, saat itu dia sudah kelelahan berenang dan kami terpisah. “Gina sempat memegang tangan dan kaki kiri saya tapi terlepas dan tenggelam. Saat itu posisi saya di belakang Gina, dan kami semua kebinggungan,” ujarnya sambil menangis.
‘’Sebenarnya,’’ lanjut Flauren, saat kejadian, dia sempat meminta pertolongan kepada dua lelaki karyawan Wispel. ‘’Tapi, mereka cuma bilang tidak baju renang, padahal saya sudah kasih tau teman saya tenggelam, nanti beberapa saat kemudian, ada Om datang dan langsung menolong Gina,’’ tutur Olen, sapaannya.
Setelah tubuh korban diangkat dari dasar kolam, atas inisiatif si penolong tubuh korban yang terkulai langsung dilarikan ke RS Budi Mulia Bitung. Sayang, nyawa anggota Sanggar Handayani SMPN 1 itu tidak tertolong lagi.
Pihak managemen Wispel mengaku bertanggung jawab atas tragedi yang menimpa siswa pintar itu.
“Semua kebutuhan untuk keluarga sampai pemakaman korban akan kami biayai, Ini tanggung jawab kami,” ujar Anita Wongkar, Manager Operasional Wispel
Wanita anggun itu mengklaim, sejak dibuka Tahun 2002, kolam renang Wispel, baru pertama kali terjadi peristiwa tragis.
Elly Topol, securiti yang menolong korban mengatakan, kejadian sekitar pukul 15.05 Wita. Saat itu dia sedang berpatroli di sekitar kawasan Wispel. “Saya kaget mendengar ada yang tenggelam. Kami angkat anak itu di pinggir kolam dan saya langsung memberikan pertolongan pertama, yaitu nafas buatan dan memompa perutnya. Saat itu ada reaksi, yaitu korban memuntahkan air,’’ tuturnya.
Setelah memberikan pertolongan pertama, korban langsung dilarikan ke RS Budi Mulia. ‘’Tapi, hanya sekira 7 menit, nyawa korban tidak tertolong lagi,’’ katanya, pilu.
Ayah korban, Noldi Sangian, tentu saja, sangat terpukul dengan tragedi yang menimpa putri tercinta.
“Saya ikhlas menerima kenyataan ini, namun sangat disayangkan pihak Wispel yang kurang melakukan pengawasan terhadap keselamatan pengunjung,” tuturnya dengan nada bergetar.
Kasat Reskrim Polres Bitung AKP Semuel Kayangan, SH menyatakan, peristiwa tewasnya siswa kelas Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional itu sementara dalam tahap penyelidikan sebab-musabanya.
Atas permintaan orangtua, mayat korban tidak divisum. “Orangtua korban telah menandatangani pertanyaan untuk tidak divisum,” katanya. (sumber :
klik di sini)