Sekretaris Daerah Kota (Sekdakot) Manado, Godbless Vicky Lumentut benar-benar prihatin dengan mewabahnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Manado. Sebagai bukti keprihatinan, Selasa (16/02) kemarin, Lumentut rela turun lapangan sambil memegang alat fogging dan melakukan penyemprotan di rumah-rumah warga di beberapa kelurahan yang ada di Malalayang.
Bak petugas fogging, bakal calon walikota Manado ini tampak sigap dan penuh se-mangat menggunakan alat pengasapan itu. “Nyamuk Aedes Aegepty adalah musuh kita, mari kita basmi,” tutur Lumentut.
Warga yang melihat Lumen-tut, langsung menyatakan pu-jian. “Bagini kwa tu pejabat. Jadi bukan hanya duduk di belakang meja kerja, tapi ha-rus turun lapangan melihat kondisi langsung masyara-kat,” celetuk Ny Firna Tume-wu, warga Malalayang.
Kepada warga, Lumentut meminta untuk tidak menga-baikan kegiatan 3M. Karena gerakan 3M ini adalah kegiat-an yang dilakukan untuk me-mutuskan rantai kehidupan nyamuk Aedes Aegypti, penu-lar DBD. Daur hidup nyamuk Aedes Aegypti terdiri dari te-lur, jentik dan kepompong. Telur, jentik dan kepompong hidup dalam air yang tidak beralaskan tanah dan akan mati bila airnya dibuang ke dalam got atau tempat pem-buangan air lainnya. Nah agar supaya telur, jentik dan ke-pompong tersebut tidak men-jadi nyamuk, maka perlu dila-kukan 3M secara teratur se-kurang-kurangnya seminggu sekali yaitu Menguras tempat-tempat penampungan air se-perti tempayan, drum, bak mandi/bak wc dan lain-lain atau menaburkan bubuk aba-te. Menutup rapat-rapat tem-pat penampungan air, agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak di da-lamnya. Mengubur/menying-kirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng-kaleng bekas, plastik bekas dan lain-lain.
Ikut serta dengan Lumentut dalam melakukan fogging, se-lain Kepala Dinas Kesehatan, dr Yvonne Kaunang, yakni Asisten I Setdakot Manado, Drs Leo Sondakh.
Sekadar diketahui, di Kota Manado, kasus DBD tertinggi berada di Kecamatan Malalayang. (sumber: klik di sini)
Bak petugas fogging, bakal calon walikota Manado ini tampak sigap dan penuh se-mangat menggunakan alat pengasapan itu. “Nyamuk Aedes Aegepty adalah musuh kita, mari kita basmi,” tutur Lumentut.
Warga yang melihat Lumen-tut, langsung menyatakan pu-jian. “Bagini kwa tu pejabat. Jadi bukan hanya duduk di belakang meja kerja, tapi ha-rus turun lapangan melihat kondisi langsung masyara-kat,” celetuk Ny Firna Tume-wu, warga Malalayang.
Kepada warga, Lumentut meminta untuk tidak menga-baikan kegiatan 3M. Karena gerakan 3M ini adalah kegiat-an yang dilakukan untuk me-mutuskan rantai kehidupan nyamuk Aedes Aegypti, penu-lar DBD. Daur hidup nyamuk Aedes Aegypti terdiri dari te-lur, jentik dan kepompong. Telur, jentik dan kepompong hidup dalam air yang tidak beralaskan tanah dan akan mati bila airnya dibuang ke dalam got atau tempat pem-buangan air lainnya. Nah agar supaya telur, jentik dan ke-pompong tersebut tidak men-jadi nyamuk, maka perlu dila-kukan 3M secara teratur se-kurang-kurangnya seminggu sekali yaitu Menguras tempat-tempat penampungan air se-perti tempayan, drum, bak mandi/bak wc dan lain-lain atau menaburkan bubuk aba-te. Menutup rapat-rapat tem-pat penampungan air, agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak di da-lamnya. Mengubur/menying-kirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng-kaleng bekas, plastik bekas dan lain-lain.
Ikut serta dengan Lumentut dalam melakukan fogging, se-lain Kepala Dinas Kesehatan, dr Yvonne Kaunang, yakni Asisten I Setdakot Manado, Drs Leo Sondakh.
Sekadar diketahui, di Kota Manado, kasus DBD tertinggi berada di Kecamatan Malalayang. (sumber: klik di sini)