Kamis, 18 Februari 2010

Investasi Sulut Tertatih-Tatih

MANADO—Investasi langsung (direct investment) maupun tak langsung (indirect investment) di Sulut sepertinya belum akan berjalan baik. Masalahnya masih terganjal di daya listrik yang tak kunjung teratasi. “Listrik ini masih terus jadi masalah,” kata Pemimpin BNI Wilayah XI Joppy Lamonge. Menurutnya, biaya operasional usaha akan lebih mahal bila pasokan listrik tak cukup.

Chief Economist Agus Tony Poputra mengatakan, soal konsumsi listrik tak perlu dipermasalahkan. Bila dilihat, konsumsi listrik nasional sebesar 509 Kwh/kapita/tahun, sangat kecil bila dibanding dengan Cina dan Malaysia. “Cina saja 1783 Kwh/kapita/tahun dan Malaysia 3194 Kwh/kapita/tahun,” rincinya. “Jadi sebenarnya bukan konsumsi tapi supply,” ujarnya.

Ia pun mengatakan jika Tarif Dasar Listrik (TDL) akan dinaikkan harus jadi alternatif terakhir.Kalaupun dinaikkan tidak akan mengganggu. “Yang penting supply tersedia,” tandasnya. Sarannya, pemerintah harus menyerahkan ke perusahaan lain untuk pendistribusian hingga ke masyarakat. “Untuk produksi biarlah ditangani pemerintah,” sarannya. Bila masalah listrik terselesaikan, keduanya optimis investasi di Sulut akan lebih cerah.

Di sisi lain, Joppy mengatakan investasi di Sulut masih banyak dibiayai dari luar. Itu terlihat dari LDR yang berada di atas 100. “Itu artinya Sulut potensial untuk investasi,” kata Joppy. Hanya, ia kembalil mengingatkan agar masalah listrik dicarikan jalan keluar. (sumber: klik di sini)